Artikel Pendidikan
Penelitian Tindakan Kelas 


| Penelitian Tindakan Kelas |
|
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN METODE PERMAINAN RAKYAT ”MEGALA-GALA” UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIIIA SMP NEGERI 4 NUSA PENIDA OLEH : I WAYAN GDE WIRADANA,S.PD NIP : 132253763 SMP NEGERI 1 NUSA PENIDA ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi siswa kelas VIIIA SMP Negeri 4 Nusa Penida dalam pembelajaran pokok bahasan getaran dan gelombang serta mendeskripsikan tanggapan siswa kelas VIIIA SMP Negeri 4 Nusa Penida terhadap pembelajaran Kooperatif dengan metode permainan rakyat “megala-gala”. Kerangka teori dari penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif yang berakar pada pandangan filosofis dan persepektif psikologis. Dengan strategi pembelajaran kooperatif dalam kelompok kecil diharapkan untuk dapat bekerjasama untuk memperoleh hasil pembelajaran yang lebih baik. Metode permainan rakyat ”megala-gala” menuntuk siswa untuk bisa berkonsentrasi dalam pembelajaran dan berkompetisi untuk lolos ke kelompok berikutnya (materi berikutnya). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 4 Nusa Penida tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 35 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Aktivitas siswa bisa ditingkatkan yaitu dari 65,9 dengan katagori sedang menjadi 77,1 dengan berkatagori baik yang merupakan langkah awal untuk meningkatka proses pembelajaran, 2)restasi belajar siswa juga meningkat dari siklus pertama yaitu 74,9 menjadi 77,6 pada siklus ke dua dengan ketuntasan 100% pada siklus ke dua, 3)Tanggapan siswa pada pembelajaran kooperatif dengan metode permainan rakyat megala-galabersipat positif yaitu siswa yang setuju 62,9% dan yang sangat setuju 37,1%. Berdasarkan temuan di atas disarankan yaitu : temuan tentang efektifnya penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode permaian rakyat ”megala-gala” sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran berikutnya dan selanjutnya. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif menjadi point penting dalam proses pembelajaran sehingga kelompok menjadi perhatian penting dalam menerapkan pembelajaran kooperatif, sehingga kelompok perlu dimodifikasi setiap saat supaya siswa tidak cepat bosan dalam pembelajaran. BAB I PENDAHULUAN
Tujuan mata pelajaran IPA di SMP yang terdapat dalam permen 22 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan berikut: meningkatkan keyakinan, mengembangkan pemahaman, mengembangkan rasa ingin tahu, melakukan inkuiri ilmiah, meningkatkan kesadaran, meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. (7) Meningkatkan pengetahuan. Tujuan mata pelajaran tersebut di atas tampaknya sesuai dengan hakekat IPA yang memiliki dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas telah ditempuh beberapa cara antara lain perbaikan kurikulum dan penataran-penataran bagi guru-guru. Namum kenyataannya pembelajaran sering dijalankan secara monotun, yaitu dengan metode ceramah. Proses pembelajaran IPA yang dilakukan selama ini masih didominasi oleh metode ceramah dengan lebih banyak menyelesaikan soal-soal hitungan agar mudah menjawab soal ulangan maupun ujian. Hal itu dapat dilihat dari pencapaian nilai rata-rata ulangan semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009 yaitu 33,2 pada skala 100 dengan nilai terendah 18 dengan nilai tertinggi 64. Jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 63 adalah 2 orang dari jumlah keseluruhan siswa kelas II yaitu sebanyak 116 orang. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka diperlukan penyempurnaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan hakekat IPA. Siswa harus dirangsang untuk dapat berinteraksi dengan temannya dalam memperoleh pengetahuan, dan diberikan tanggung jawabmenemukan dan memperoleh pengetahuannya sendiri, sehingga siswa merasa adanya persaingan yang sehat dan dapat meningkatkan motivasinya dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat diajukan rumuskan masalah sebagai berikut.
Bertitik tolak dari permasalahan yang diajukan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran dalam kelompok kecil yang bekerja sama untuk memaksimalkan penguasaan tentang apa yang dipelajari siswa. Dalam pembelajaran kooperatif terjadi proses saling membantu di antara anggota-anggota kelompok. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif (Aryana, 2006) adalah (1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi pelajarannya, (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (3) bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin, dan agama yang berbeda, (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. Tujuan utama pembelajaran kooperatif (Aryana, 2006) yaitu (1) meningkatkan hasil belajar akademik, bahwa strategi ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, (2) penerimaan terhadap perbedaan individu, karena akan terbentuk sikap menerima adanya perbedaan ras, agama, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan perbedaan-perbedaan lainnya, (3) pengembangan keterampilan sosial, bahwa pembelajaran kooperatif dapat mengajarkan keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Ada 4 model pembelajaran kooperatif yaitu:
2.2 Permainan Rakyat ”Megala-gala” Cara memainkannya adalah jumlah pemain harus bilangan genap 8, 10, atau 12 orang. Pemain-pemain itu dibagi menjadi dua kelompok yang sama. Jumlah pemain yang 10 orang misalnya, terlebih dahulu membagi diri menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang. Kelompok A terdiri dari pemain A-1 sampai dengan A-5 dan kelompok B terdiri dari B-1 sampai dengan B-5. Seandainya kelompok B yang kalah sut, maka kelompok B dihukum menjadi kelompok nyaga, yakni menjaga ruangan-ruangan atau petak rumah supaya aman. Sedangkan kelompok A menjadi kelompok penyerang yang disebut mentas, artinya melintasi pintu dan ruang rumah. Kelompok nyaga yang terdiri dari lima orang itu menjaga petak-petak ruangan melalui garis pintu masing-masing. Ia hanya boleh menghadang penyerang melalui garis yang berada dalam wilayah kotanya, kecuali pengunci (B-5) yang diperbolehkan menghadang melalui garis sumbu. Kelompok mentas (penyerang) mula-mula berkumpul di depan pintu rumah. Tugasnya adalah melintase semua ruangan yang di jaga B-1 sampai dengan B-5, kemudian balik kembali ke pintu rumah semula. Penyerangan dilakukan satu per satu atau lebih, asalkan dalam satu petak (ruangan) tidak boleh berdiri lebih dari seorang penyerang. Kelompok penyerang dinyatakan mati kalau tersentuh, maka kelompok mentas (A) dinyatakan kalah. Tetapi kalau salah seorang kelompok penyerang itu berhasil balik ke pintu rumah semula (halaman depan), walaupun pemain-pemain lainnya sudah mati, maka kelompok A tampil sebagai pemenang.
2.3 Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Permainan Rakyat ”Megala-gala Pembelajaran kooperatif dengan metode permainan rakyat ”magala-gala” dimulai dengan penjelasan sederhana (sebagian kecil materi) oleh guru. Selanjutnya materi yang lain dicari di dalam kelompoknya. Tetapi, pembentukan kelompok berdasarkan penjaringan yang ditentukan saat pemberian tes (hasil tes dalam menentukan kelompok). Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan metode permainan rakyat ”megala-gala” adalah sebagai berikut.
2.4 Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar terdiri dari kata kreativitas dan kata belajar. “Keaktifan memiliki kata dasar aktif yang berarti giat dalam belajar atau berusaha” (Ratmi, 2004). Keaktifan belajar berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat dalam belajar.
Ada empat ciri keaktifan belajar siswa yaitu 1) Keinginan dan keberanian menampilkan perasaan, 2) Keinginan dan keberanian serta kesempatan berprestasi dalam kegiatan baik persiapan, proses dan kelanjutan belajar, 3) Penampilan berbagai usaha dan kreativitas belajar mengajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya, 4) Kebebasan dan kekeluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru atau pihak lain
Mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil belajar, Nana Sudjana (dalam Ratmi,04) menyatakan bahwa “ada lima hal yang mempengaruhi keaktifan belajar, yakni: 1) stimulus belajar, 2) perhatian dan motivasi, 3) respon yang dipelajarinya, 4) penguatan, 5) pemakaian dan pemindahan” 2.5 Hasil Belajar
Menurut Nurkancana (dalam Ratmi, 2004) bahwa “hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai seseorang dalam kegiatan belajar selama kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai”. Sedangkan Hadari Nawawi (1981) menyatakan bahwa: “hasil belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”.
Dalam buku terbitan Direktorat Pendidikan Dasar Depdikbud (1998:82) menyebutkan bahwa ciri-ciri hasil belajar adalah 1) adanya kemampuan siswa untuk mengingat kembali informasi atau materi yang telah dipelajari, 2) adanya kemampuan siswa yang nampak dalam keterampilan mengelompokkan, menyajikan dan menafsirkan data, 3) adanya kemampuan siswa untuk menghasilkan suatu nilai dari materi pelajaran berdasarkan kriteria nyata, jelas dan obyektif. Mencermati uraian tersebut maka ciri-ciri hasil belajar terwujud dalam ranah kognitif, afektif, psikomotor serta kreativitas pada diri secara wajar tanpa tekanan orang lain.
Menurut Sumadi Suryabrata (dalam Ratmi, 2004) menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yaitu 1) faktor dari dalam diri siswa meliputi bakat, minat, intelegensi, keadaan indera, kematangan, kesehatan jasmani, 2) faktor dari luar diri siswa meliputi fasilitas belajar, waktu belajar, media belajar, cara guru mengajar dan memotivasi. 2.5 Hipotesis Tindakan Bertitik tolak dari pembahasan di atas maka hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Seting Penelitian Penelitian ini dilakukan pada semester II bulan Januari, Pebruari dan Maret 2009 tahun pelajaran 2008/2009. 3.2 Subjek Penelitian Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas VIIIA SMP Negeri 4 Nusa Penida Semester II tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 35 orang. 3.3 Sumber Data Sumber data untuk aktivitas siswa di dapat dari lembar observasi dan observasi langsung pada saat pembelajaran tiap siklus. Sedangkan sumber data dari prestasi belajar siswa adalah jawaban siswa dari tes yang diberikan pada akhir siklus, serta tanggapan siswa di dapat pada saat akhir pembelajaran dalam bentuk angket mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan. 3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data Untuk data tentang aktivitas siswa dijaring dengan lembar observasi. Data tentang prestasi siswa yang diambil melalui pemberian soal pada tiap-tiap siklus. Soal tersebut diberikan skor 5 untuk tiap tiap item soal. Untuk menentukan prestasi siswa ditentukan dengan jumlah jawaban benar dikalikan skor, selanjutnya dicari ketuntasannya dengan cara membandingkan prestasi siswa dengan KKM sekolah untuk mata pelajaran IPA kelas VIII. Instrumen penelitian/ alat pengumpulan data dan teknik pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut.
3.5 Analisis Data Untuk data tentang aktivitas siswa dianalis dengan cara penilaian setiap siswa diberikan penilaian 1 untuk yang memenuhi/sesuai dengan indikator sedangkan yang tidak memenuhi indikator diberikan skor nol, selanjutnya skor masing-masing siswa dicari melaui jumlah skor yang didapat siswa dibagi dengan julah skor maksimal yaitu 20 dikalikan dengan 100, selanjutnya dikonversi kedalan pedoman konversi berikut. 85 – 100 Sangat baik 75 – 84,9 baik 55 – 74,9 sedang 40 – 54,9 kurang 0 – 39,9 sangat kurang Untuk data tentang prestasi belajar siswa dianalisis dengan memberikan skor 5 pada setiap item soal, sedangkan prestasi masing-masing siswa di dapat dari jumlah item soal benar dikalikan dengan 5, selanjunya baru dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA kelas VIII yaitu 63 untuk menentukan apakah siswa tersebut sudah tuntas atau belum. 3.6 Indikator Kinerja Indikator keberhasilan kinerja dalam penelitian ini dapat ditetapkan sebagai berikut.
3.7 Prosedur Penelitian Pelaksanaan penelitian meliputi beberapa tahap adalah sebagai berikut.
Penelitian ini terdiri dari dua siklus masing-masing siklus dilaksanakan melalui 4 tahapan, yaitu: 1) perencanaan penelitian, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi/evaluasi, dan 4) refleksi.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada siklus pertama didapatkan hasil sebagai berikut : Aktivitas klasikal 65,9 berkatagori sedang dengan 4 orang yang berkatagori kurang sedangkan prestasi belajar dengan rata-rata 74,9 yang tergolong di atas KKM dengan 4 orang yang belum tuntas. Pada siklus kedua didapatkan hasil sebagai berikut : Aktivitas klasikal 77.1 yang berkatagori baik tanpa ada siswa yang berkatagori kurang sedangkan prestasi 77,6 yang tergolong di atas KKM 4.2 Pembahasan Untuk aktivitas ada peningkatan baik secara klasikal maupun individual sedangkan prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan walaupun tidak terlalu jauh karena nilai yang diperoleh sudah tergolong besar di bandindingkan dengan dengan sebelum dilakukan penelitian. BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan temuan-temuan penelitian dan pembahasan yang dilakukan sebelumnya, dapat ditarik simpulan-simpulan sebagai berikut. Pertama, aktivitas siswa bisa ditingkatkan yaitu dari 65,9 dengan katagori sedang menjadi 77,1 dengan berkatagori baik yang merupakan langkah awal untuk meningkatka proses pembelajaran. Kedua, prestasi belajar siswa juga meningkat dari siklus pertama yaitu 74,9 menjadi 77,6 pada siklus ke dua dengan ketuntasan 100% pada siklus ke dua. Ketiga, Tanggapan siswa pada pembelajaran kooperatif dengan metode permainan rakyat megala-galabersipat positif yaitu siswa yang setuju 62,9% dan yang sangat setuju 37,1%. 5.2 Saran-saran Berdasarkan temuan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka kami sarankan beberapa hal yaitu temuan tentang efektifnya penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode permaian rakyat ”megala-gala” sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran berikutnya dan selanjutnya. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif menjadi point penting dalam proses pembelajaran sehingga kelompok menjadi perhatian penting dalam menerapkan pembelajaran kooperatif, sehingga kelompok perlu dimodifikasi setiap saat supaya siswa tidak cepat bosan dalam pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Hilda Karli dan Margaretha Sri Yuliariatiningsih. 2002. Implementasi Kurikulum berbasis Kompetensi (Model-model Pembelajaran). Bina Media Informasi, Bandung Ratna Willis Dahar. 1989. Teori-teori Belajar. Erlangga: Jakarta Paul Suparno. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: karnisius. Putu Aryana, Ida Bagus, 2006. Penerapan Model PBL Pada Pelajaran Biologi Untuk Meningkatkan Kompetensi dan Kemampuan berpikir Siswa Kelas x SMA Negeri 1 Singaraja. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan ) IKIP Negeri Singaraja. Ratmi, Ni Wayan, 2004. Implementasi metode demonstrasi dan beberapa media belajar untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran matematika pada siswa kelas III semester II tahun pelajaran 2003/2004 di sekolah dasar nomor 13 sesetan kecamatan denpasar selatan. Skripsi (tidak diterbitkan) IKIP Negeri Singaraja. Santyasa, I Wayan. 2007a. Penelitian Tindakan Kelas (konsep dasar, teknik penyusunan proposal, dan sistematika laporan Penelitian. Makalah disajikan dalam pelatihan tentang penelitian tindakan kelas (PTK) bagi guru-guru SMP dan SMA di Nusa Penida pada tanggal 29 sampai 1 juni 2007. ---------------------. 2008b. Pelatihan penyusunan Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disajikan dalam pelatihan penelitian tindakan kelas bagi Guru-guru Sekolah Menengah di kecamatan Nusa Penida di Nusa Penida tanggal 25 Agustus 2008 --------------------, 2008c. Teknik Penyusunan laporan penelitian tindakan kelas dan artikel ilmiah. Makalah disajikan dalam pelatihan penelitian tindakan kelas bagi Guru-guru Sekolah Menengah di kecamatan Nusa Penida di Nusa Penida tanggal 25 Agustus 2008 --------------------, 2008d. Pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran kooperatif. Makalah disajikan dalam pelatihan tentang pembelajaran dan asesmen inovatif bagi guru-guru Sekolah Menengah di kecamatan Nusa Penida di Nusa Penida tanggal 22, 23, dan 24 Agustus 2008 Suastra, I Wayan. 2006. Pembelajaran komparatif (comparative Learning). Makalah disampaikan pada pelatihan Stategi Pembelajaran Inovatif bagi para Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Klungkung tanggal 1 sampai 12 September 2006 Suma, Ketut 1996. Metode dan Proses Penelitian. Makalah Disajikan dalam seminar peningkatan kualitas penelitian program Studi Fisika. Singaraja 29 Maret 1996 --------------------. 2007b. Model-model pembelajaran Inovatif. Disajikan dalam pelatihan tentang penelitian tindakan kelas (PTK) bagi guru-guru SMP dan SMA di Nusa Penida pada tanggal 29 sampai 1 juni 2007. --------------------. 2007c. Model pembelajaran Konstruktivistik (suatu model pembelajaran berdasarkan paradigma konstruktivisme). Disajikan dalam pelatihan tentang penelitian tindakan kelas (PTK) bagi guru-guru SMP dan SMA di Nusa Penida pada tanggal 29 sampai 1 juni 2007. Sumadi, I Nengah, 2008 . Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas. Disajikan dalam seminar pembelajaran dan asesmen inovatif, Lesson Study, dan penelitian tindakan kelas bagi guru-guru Sekolah Dasar dan Menengah di provinsi Bali di Singaraja pada tanggal 12 Juli 2008 Taro.Made, 2003, Plekuncang. Tersedia pada http://www.BaliPost.htm. Diakses pada tanggal 5 januari 2009 Yasa, dkk. 1998. Pembinaan Kualitas Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Starter Eksperimen Dengan Percobaan Awal Memanfaatkan Teknologi Masyarakat Sebagai Intensifikasi Keterampilan Proses Pada SLTP Negeri Di Kota Singaraja. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). STKIP Negeri Singaraja. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|