|
KARYA ILMIAH REMAJA SEMAKIN TENGGELAM |
E-mail
|
Dari tahun ke tahun prestasi Karya Ilmiah Remaja (KIR) cenderung terus menurun. Belakangan nama KIR kalah tenar oleh hadirnya olimpiade-olimpiade fisika, matematika, biologi dan sebagainya yang kian meruyak.
Ramainya berbagai cara mengejar prestasi melalui penyelenggaraan atau keikutsertaan olimpiade-olimpiade tersebut merupakan satu dari empat faktor penyebab menurunnya tren dan prestasi KIR selama ini. Secara tegas hal itu diiakui oleh Arief Rahman, Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) ini di sela presentasi Lomba Kreatifitas Ilmiah Guru (LKIG) ke-17 dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PRRI) ke-8 di Depok, 10 Agustus 2009. Faktor kedua yang ikut menjadi penyebab yaitu KIR saat ini sudah menjadi kegiatan yang sangat rutin atau rutininas dan tidak lagi monumental sehingga dianggap biasa oleh masyarakat. Peran guru pun ikut memengaruhi kecenderungan menurunnya KIR. Hal tersebut menjadi faktor penyebab ketiga, yaitu bahwa guru-guru kini semakin lebih mengarahkan para siswa untuk fokus pada program peningkatan belajarnya menghadapi Ujian Nasional (UN). Selama ini para guru hanya mengajar siswa untuk mengejar pretasi nilai, jadi bisa dianggap bahwa penekanan guru hanya pada mutu nilai siswa, bukan pada proses pembelajarannya. Sebagai faktor penyebab keempat yakni para guru pembina KIR pun saat ini kian tergilas oleh proses-proses pembelajaran yang mengarah pada pembentukan mutu nilai. Alhasil, metode pembelajaran yang mereka berikan tak lagi kritis untuk membuat siswa menemukan ilmu. Sejatinya KIR tidak mati, hanya semakin tenggelam karena baik guru dan siswa kini semakin terfokus pada mengejar mutu nilai, mereka mengejar ilmu, bukan menemukan ilmu. Hal ini merupakan tantangan bagi sekolah ataupun para guru untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dalam dimensi proses ataupun produk. |